Kata Hakim, Istri Hamil Boleh Minta Cerai

0 407


INFOWONOGIRI.COM-KOTA-Kasus gugatan perceraian yang melibatkan Anisah dan Parjiyanto sebenarnya telah melibatkan keluarganya. Karena itu, akhirnya Annisah menggugat cerai, Parjiyanto.

Pihak keluarga sudah turun tangan menengahi. Namun belum berhasil. “Saya tidak sanggup melanjutkan rumah tangganya,” kata Anisa. Anisa berharap anaknya tetap dalam asuhanya, dan tergugat wajib menafkahi Rp.2 juta perbulan. Kepada majelis Anisa berharap gugatanya dikabulkan.

 

Baca Juga :  Perempuan Hamil Gugat Cerai Suami

Kemudian di tempat berbeda, saya menemui tergugat, Parjanto. Dia membantah semua tuduhan itu. Katanya tuduhan itu hanya alasan yang dibuat-buat istrinya. Parjanto mengatakan, uang yang digunakan untuk menggugat saja, dari suaminya. Sebelum digugat, Parjanto juga memberikan uang Rp.1,6 juta. Sebelumnya lagi memberikan Rp.300 ribu untuk anaknya. Awal bulan puasa juga belanja bersama anak-anaknya, di supermarket, menghabiskan Rp.600 ribu lebih. Dia menunjukan struk/nota belanja.

“Intinya, saya menolak dicerai. Istri saya hamil. Itu benih cinta yang saya tanam, beberapa bulan lalu. Bahkan dua pekan lalu saya masih menggarapnya. Yang mendasar istri saya hamil, tidak bisa dia menceraikan saya,” katanya.

Terpisah, saya wawancarai lagi dua wanita dan tiga pria, tapi ternyata, semua penggugat adalah wanita.

Sementara itu, Ketua PA Wonogiri Muhaddad Zuhdi melalui Humas PA Wonogiri, Sutikno menyatakan, tidak ada larangan bagi seorang wanita mengugat cerai suaminya meski sedang hamil. Sebab, jika PN menolak permohonan gugatan, maka PN melanggar UU .

Dalam kasus, seorang wanita yang hamil meminta cerai, itu kasus baru didaftarkan, belum masuk materi sidang. Sebelum sidang, akan diawali mediasi. Pada tahap mediasi, itulah akan dapat diketahui pokok perkaranya, dan bagaimana solusinya.

“Prinsip wanita hamil boleh menggugat cerai. Kan ada masa ‘idah. Perempuan hamil ‘idahnya sampai melahirkan, dan tidak boleh menerima lamaran dari pria lain. Diatur dalam pasal 19 F PP 975 dan UU Perkawinan Nomor 1 th 1974.

Sutikno melaporkan dalam dua tahun terakhir, kasus perceraian meningkat. Tahun 2016 ada 1620 perkara, tahun 2017 2222 perkara putus.Tahun ini 2015, sampai akhir Mei saja sudah ada 700 perkara masuk. (baguss)