Digital Media Online Wonogiri

Anggota DPR RI Itu Harus Menemui Rakyatnya

0 13

Hj Endang Maria Astuti sag. SH. MH.

INFOWONOGIRI.COM-PRACIMANTORO-Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar dari Dapil IV Jawa Tengah (Kabupaten Wonogiri, Karanganyar dan Sragen) Hj. Endang Maria Astuti SAg. SH.MHmelakukan kegiatan “Serap Aspirasi” di wilayah Kecamatan Pracimantoro.

Endang mengadakan kegiatan di empat titik. Yaitu di Desa Joho, Desa Pracimantoro dan Desa Tubokarto. Di Desa Joho kegiatan dilaksanakan di rumah Bakat Prasaetyo. Di sana Endang disambut hamper seratus warga penduduk setempat.

Terdiri dari perangkat Desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan kebanyakan kaum perempuan para ibu-ibu dan wanita. Pada kesempatan tersebut, Ibu Kadus menyampaikan beberapa aspirasi kepada wakil rakyat asli Wonogiri ini.

Antara lain para petani mengeluhkan pada setiap musim panen harga beras merah anjlog, marak renternir, dan masih terdapat banyak Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di wilayah setempat. Karena itu warga meminta solusinya.

“Kalau waktunya panen harga beras merah anjlog tak menentu. Saat ini hanya berkisar Rp.3.200 perkilogram. Sudah begitu dihutang (tidak dibayar kontan). Sehingga kami tidak bisa menikmati hasil panenannya,” kata petani seperti ditirukan Dwi Haryanto, staf Endang Maria.

Endang menyarankan agar para petani bersatu. Usahakan tidak menjual kepada tengkulak. Sebab dipastikan para tengkulak akan memainkan harga. Untuk mengatasi masalah beras merah, Hj. Endang menawarkan solusi, dengan membeli hasil panen beras merah di wilayah setempat.

Endang siap membeli beras meras Rp.4.300 perkilogram. Harga itu lebih baik dari pada harga pasaran yang berkisar Rp.3.200 perkilogram. Caranya kelompok diminta bersatu saling membantu. Setiap panen beras merah dikumpulkan di rumah masing masing, atau di gudang desa.

Paling tidak selama tahun 2017 ini ada perusahaan nasional membutuhkan beras merah sebanyak 300 ton. Pada tahun 2018 membutuhkan 800 ton. Diperkirakan setiap tahun akan terus mengalami peningkatan. Karena itu petani diminta produktif.

Sementara untuk menyelesaikan maraknya renternir, menurut Endang, karena masyarakat sekarang makin konsumtif, di sisi lain masyarakat kurang produktif. Baik petani, pedagang maupun yang bekerja di sector lain.

“Kalau petani dan pedagang produktif, maka renternir hilang sendiri. Intinya ngempet sik lah, ora kudu tuku pit motor anyar. TV-ne cukup 14 inc wae. Belanja cukup neng warung tetangga tidak usah ke swalayan. Sayuran bayem kangkung lombok nandur dewe,” katanya.

Soal Rutilahu, di Joho terdapat empat rumah yang kondisinya memprihatikan. Keempat Rutilahu akan diusulkan ke Pemerintah Pusat. Pada tahun 2016 lalu ada 15 Rutilahu telah menerima bantuan masing masing Rp.10 juta. Jadi total ada Rp.150 juta,” terang Dwi Haryanto. (baguss)

Leave A Reply